Abdiansyah Prahasto

Studi Kasus Degree of Deficiency (DOD) ICOFR untuk Defisiensi Pengendalian Stock Opname

Perusahaan menetapkan Overall Materiality (OM) ICOFR sebesar Rp1 miliar dan Performance Materiality (PM) Rp500 juta. Operasi logistiknya tersebar di 100 gudang di seluruh Indonesia, sehingga pengendalian persediaan—terutama stock opname—menjadi pengendalian utama/key control untuk memastikan eksistensi, akurasi, dan kelengkapan persediaan.

Dalam Test of Design (TOD) yang dilakukan oleh Internal Audit, ditemukan kelemahan pada proses stock opname di 1 gudang. Temuan ini didukung inkonsistensi data antara Berita Acara (BA) Stock Opname per 30 November 2025 dan kuantitas persediaan di sistem ERP. Meski selisih nilai rupiahnya masih di bawah PM, defisiensi ini tidak berhasil diremediasi hingga 31 Desember 2025. Kapan defisiensi tetap sebagai Control Deficiency (CD), meningkat menjadi Significant Deficiency (SD) atau Material Weakness (MW)?

Defisiensi tetap CD:

  1. Defisiensi isolated

Analisa root cause menunjukkan defisiensi karena aspek people, process, atau technology hanya terjadi di gudang itu saja (isolated).

Berdasarkan pengujian atas gudang lain, memang terkonfirmasi tidak ada defisiensi yang sama/tidak ada pola (isolated).

2. Nilai potensi salah saji di bawah OM

Setelah mempertimbangkan volume transaksi di gudang tersebut dan tidak ada pola di gudang lain, nilai potensi salah saji di bawah OM Rp 1 Milyar.

3. Ada compensating control/MRC yang presisi dan efektif

Terdapat compensating control seperti rekonsiliasi persediaan vs COGS vs produksi yang dilakukan setiap bulan dengan threshold varian jauh di bawah PM. Terdapat bukti investigasi jika ada selisih, berbasis data dari sistem yang andal, dan dilakukan oleh control owner yang kompeten.

4. Entity Level Control (ELC) yang efektif

Pembagian tugas dan tanggung jawab jelas, periodic performance review dilakukan dengan konsisten, kode etik dikelola dengan baik, dan lain-lain.

Defisiensi menjadi MW:

  1. Sistemik/Pervasif

Analisa root cause menunjukkan defisiensi karena aspek people, process, atau technology terjadi di banyak gudang lain (sistemik).

Berdasarkan pengujian atas gudang lain, memang terkonfirmasi terdapat pola defisiensi yang sama (sistemik). Misalnya tidak ada pelatihan yang memadai, SOP yang tidak jelas, desain sistem ERP yang tidak memadai.

2. Nilai potensi salah saji di atas OM

Setelah mempertimbangkan volume transaksi di gudang-gudang tersebut dalam satu tahun, nilai potensi salah saji di atas OM Rp 1 Milyar.

3. Tidak ada compensating control/MRC yang presisi dan efektif

Tidak ada compensating control seperti rekonsiliasi persediaan vs COGS vs produksi yang dilakukan setiap bulan dengan threshold varian jauh di bawah PM. Tidak terdapat bukti investigasi jika ada selisih, berbasis data dari sistem yang andal, dan dilakukan oleh control owner yang kompeten.

4. ELC yang tidak efektif

Pembagian tugas dan tanggung jawab tidak jelas, periodic performance review dilakukan dengan sedikit penekanan kepada analisa anomali, kode etik dikelola dengan tidak efektif, terdapat indikasi kuat fraud dan lain-lain.

Defisiensi menjadi SD:

Segala analisa yang menyimpulkan dampak dan kemungkinan defisiensi di antara CD dan MW.

Sumber: Pengalaman penulis.

Leave a comment