Abdiansyah Prahasto

Studi Kasus Degree of Deficiency (DOD) ICOFR untuk Defisiensi Pengendalian Analisa Indikasi Impairment Aset Tetap

Perusahaan menetapkan Overall Materiality (OM) ICOFR sebesar Rp1 miliar dan Performance Materiality (PM) Rp500 juta. Operasi bisnisnya mencakup tiga pabrik yang tersebar di tiga provinsi di Indonesia, dengan proses pelaporan keuangan terpusat di kantor pusat, sementara eksekusi operasional aset berada di masing-masing pabrik.

Berdasarkan Test of Design (TOD) yang dilakukan Internal Audit, ditemukan bahwa perusahaan tidak memiliki proses formal untuk menilai indikasi penurunan nilai (impairment) aset pabrik. Artinya, analisis awal untuk mendeteksi sinyal impairment, baik dari penurunan kinerja aset, kondisi pasar, maupun kenaikan biaya pemeliharaan, tidak pernah dilakukan. Defisiensi ini tidak berhasil diremediasi hingga 31 Desember 2025. Kapan defisiensi tetap sebagai Control Deficiency (CD), meningkat menjadi Significant Deficiency (SD) atau Material Weakness (MW)?

Defisiensi tetap CD:

  1. Isolated atau likelihood 0

Berdasarkan pengujian, likelihood terjadinya impairment tidak ada karena utilisasi pabrik tinggi, margin produk lebar, tidak ada penurunan kapasitas, dan tidak ada indikator ekonomi/operasional impairment lain yang relevan

2. Nilai potensi salah saji

Karena likelihood-nya tidak ada, sebesar apa pun nilai potensi salah saji menjadi tidak relevan.

3. Ada compensating control/MRC yang presisi dan efektif

Terdapat compensating control seperti asset performance dashboard, downtime analysis, maintenance-cost spike review, dan approval berjenjang atas asset write-off/adjustment, pengendalian dilakukan berbasis data dari sistem yang andal, dan dilakukan oleh control owner yang kompeten.

Defisiensi menjadi MW:

  1. Sistemik/Pervasif

Berdasarkan pengujian atas indikasi impairment pabrik, terkonfirmasi terdapat indikasi impairment.

Analisa root cause menunjukkan defisiensi karena aspek desain people, process, atau technology lemah (sistemik). Contohnya tidak ada SOP, Kertas Kerja Analisa, atau kompetensi personil yang kurang.

2. Nilai potensi salah saji di atas OM

Carrying amount pabrik sangat besar sehingga penurunan nilai ekonomis 1-3% saja berpotensi menghasilkan salah saji di atas OM.

3. Tidak ada compensating control/MRC yang presisi dan efektif

Tidak ada compensating control seperti asset performance dashboard, downtime analysis, maintenance-cost spike review, dan approval berjenjang atas asset write-off/adjustment, pengendalian dilakukan tidak berbasis data dari sistem yang andal, dan tidak dilakukan oleh control owner yang kompeten.

Defisiensi menjadi SD:

Segala analisa yang menyimpulkan dampak dan kemungkinan defisiensi di antara CD dan MW.

Sumber: Pengalaman penulis.

Leave a comment