Pernahkah Anda pindah rumah dan menemukan koper tua? Isinya campur aduk: pakaian lama, dokumen penting, bahkan barang rusak. Sebelum pindah, Anda harus memilah: mana yang layak dibawa, mana yang harus ditinggalkan.
Nah, begitulah dunia bisnis saat menghadapi istilah yang rumit ini: Assets and Liabilities Carve-Out. Kedengarannya seperti jargon para investment banker, tetapi sesungguhnya, ini adalah proses memilah koper lama agar perjalanan bisa lebih ringan.
Dalam bahasa sederhana, carve-out adalah strategi korporasi untuk memisahkan aset sehat dan liabilitas bermasalah.
- Aset sehat tetap dipertahankan, dipindahkan ke entitas baru atau tetap di perusahaan inti.
- Liabilitas berat (utang, kontrak tidak efisien, beban bunga) dikelola secara khusus — bisa lewat restrukturisasi, spin-off, atau dialihkan ke entitas lain.
Tujuannya agar perusahaan inti bisa fokus bertumbuh tanpa terus terbebani masalah masa lalu.
Mari kita bahas carve-out melalui studi kasus General Motors (GM) pada krisis finansial 2008–2009, yang sering disebut sebagai salah satu corporate restructuring terbesar di dunia otomotif.
Tahun 2008, krisis finansial global membuat permintaan mobil anjlok tajam. GM sudah lama menanggung biaya tenaga kerja yang tinggi, kewajiban pensiun besar, dan merek-merek tidak efisien. Utang menumpuk, kerugian membengkak, dan pada 1 Juni 2009 GM resmi mengajukan kebangkrutan (Chapter 11) di AS.
Alih-alih membiarkan perusahaan besar ini benar-benar mati, pemerintah AS bersama manajemen GM memilih model “Good GM” vs “Bad GM”:
1. Good GM
- Berisi aset sehat dan merek yang kuat, seperti Chevrolet, Cadillac, GMC, Buick.
- Termasuk pabrik modern, teknologi baru, dan aset internasional yang menguntungkan (GM China, dll).
- Didukung dana talangan (bailout) dari pemerintah AS melalui Troubled Asset Relief Program (TARP).
2. Bad GM
- Berisi liabilitas berat dan aset bermasalah, seperti merek-merek tidak efisien (Hummer, Saturn, Saab, Pontiac).
- Kontrak utang lama, kewajiban pensiun, dan pabrik tua yang boros.
- Ditempatkan dalam entitas bernama Motors Liquidation Company, yang kemudian dilikuidasi secara bertahap.
Pemerintah AS mengambil 60,8% saham Good GM, Kanada 11,7%, serikat pekerja UAW 17,5%, sisanya pemegang obligasi lama. GM menutup 14 pabrik, mengurangi lebih dari 20 ribu pekerja, dan menghentikan empat merek besar. Dengan carve-out ini, GM bisa keluar dari kebangkrutan dalam waktu singkat yaitu hanya 40 hari (rekor untuk restrukturisasi perusahaan sebesar itu).
GM kembali mencetak laba pada 2010 dan melakukan IPO terbesar saat itu untuk mengembalikan dana pemerintah. Merek inti (Chevrolet, GMC, Cadillac, Buick) bertahan dan berkembang. Bad GM (aset tidak produktif dan kewajiban lama) tetap dikelola secara terpisah agar tidak menghambat kinerja perusahaan inti.
Strategi carve-out ini bisa diterapkan untuk BUMN di Indonesia seperti:
- BUMN Karya yang sedang terbebani proyek-proyek dengan arus kas negatif.
- BUMN Perkebunan punya masalah produktivitas di beberapa kebun lama.
- BUMN Pangan ada yang masih membawa beban masa lalu dari proyek gagal.
Dengan carve-out, BUMN bisa memilah aset sehat untuk dipacu tumbuh, sementara aset yang diragukan produktivitasnya dan liabilitas lama dikelola dalam skema khusus, mungkin bersama Danareksa atau Danantara sebagai pengelola aset negara.


Leave a comment