Tujuh puluh ribu tahun yang lalu Homo sapiens mengalami Revolusi Kognitif yaitu mengembangkan kemampuan untuk berkomunikasi secara kompleks, membayangkan konsep abstrak, dan berbagi mitos kolektif. Inilah titik balik besar dalam sejarah manusia yang membedakan sapiens dari semua spesies lainnya.
Kekuatan dari fiksi bersama—seperti mitos, legenda, dan sistem kepercayaan—memungkinkan Homo sapiens bekerja sama dalam kelompok besar yang fleksibel. Makhluk lain hanya bisa bekerja sama dalam kelompok kecil berdasarkan ikatan sosial langsung. Misalnya, simpanse hanya bisa membentuk kelompok sekitar 50–100 individu. Namun, sapiens bisa mengorganisasi masyarakat hingga ribuan bahkan jutaan orang karena mereka percaya pada narasi bersama—seperti agama, negara, hukum, atau uang.
Kemampuan untuk membayangkan dan mempercayai hal-hal yang tidak berwujud secara fisik—seperti dewa, perusahaan, atau hak asasi manusia—adalah apa yang disebut Harari sebagai “Pohon Pengetahuan.” Keyakinan bersama ini menjadi fondasi bagi kerja sama sosial, politik, dan ekonomi. Ini memungkinkan manusia membangun institusi kompleks dan beradaptasi lebih luwes dibandingkan spesies lain.
Cerita dan mitos berkembang melalui bahasa, memungkinkan sapiens untuk bersatu dengan cara yang tak bisa dilakukan oleh spesies lain. Revolusi Kognitif tidak hanya menciptakan cara baru dalam berbicara, tetapi juga cara baru dalam berpikir—mulai dari bergosip, bercerita, hingga merencanakan strategi.
Dominasi Homo sapiens tidak berasal dari kecerdasan atau kekuatan fisik individu, melainkan dari kemampuan unik untuk mempercayai mitos kolektif. Realitas yang dibayangkan inilah yang menjadi lem perekat masyarakat besar—membentuk segalanya mulai dari agama, budaya, hingga ekonomi dan pemerintahan. Inilah sumber kekuatan sejati manusia.
Sumber: Harari (2014). Sapiens.

Leave a comment