Abdiansyah Prahasto

Mengendalikan Risiko dari Transaksi Non-rutin ICOFR

Transaksi non-rutin adalah transaksi yang tidak biasa, baik karena nilai maupun sifatnya, sehingga jarang terjadi dalam operasional perusahaan, serta berkaitan dengan hal-hal yang bersifat pertimbangan profesional (melibatkan asumsi dan estimasi akuntansi). Transaksi non-rutin secara inheren memiliki risiko yang tinggi karena:

  • intervensi manajemen yang lebih banyak untuk menentukan perlakuan akuntansi;
  • intervensi manual yang lebih banyak selama proses pengumpulan dan pengolahan data;
  • kompleksitas dalam pengumpulan dan pengolahan data untuk mendukung saldo akun;
  • perhitungan atau prinsip akuntansi yang rumit, yang mungkin juga belum familiar;
  • kesulitan dalam merencanakan dan menerapkan pengendalian yang efektif atas transaksi non-rutin; dan
  • transaksi yang memiliki beberapa perlakuan akuntansi yang dapat diterima sehingga melibatkan unsur subjektivitas.

Semakin besar pertimbangan yang diperlukan, semakin besar kemungkinan terjadinya salah saji. Ketika mencatat transaksi non-rutin, perusahaan mungkin tidak memiliki pengalaman yang cukup dan memadai untuk mencatatnya dengan benar. Perusahaan lebih mungkin melakukan kesalahan karena kurangnya pengalaman yang relevan.

Transaksi non-rutin mencakup, tetapi tidak terbatas pada, kegiatan merger, akuisisi, dan divestasi; perolehan properti dalam jumlah besar; penghapusan aset; kerugian akibat kebakaran; dan peluncuran produk baru. Perusahaan harus merancang dan menerapkan pengendalian terhadap risiko signifikan yang timbul dari transaksi non-rutin, termasuk bagaimana dan sejauh mana manajemen mengendalikan risiko tersebut. Pengendalian tersebut dapat mencakup:

• Penelaahan asumsi oleh pakar (internal dan eksternal perusahaan).
• Proses penentuan estimasi yang terdokumentasi.
• Persetujuan oleh pihak yang memiliki tanggung jawab tata kelola.

Dalam beberapa kasus, manajemen mungkin tidak mengendalikan secara memadai risiko signifikan dari transaksi non-rutin tersebut. Hal ini dapat mengindikasikan adanya kelemahan material dalam pengendalian internal perusahaan.

Leave a comment