Abdiansyah Prahasto

Kondisi di mana Terdapat Risiko Salah Saji Material yang tinggi pada Tingkat Laporan Keuangan

Risiko Salah Saji Material (Risk of Material Misstatement/ROMM) adalah risiko bahwa laporan keuangan mengandung salah saji material sebelum diaudit. Tim ICOFR (Internal Control over Financial Reporting) harus melakukan prosedur penilaian risiko untuk mengidentifikasi dan menilai ROMM pada tingkat laporan keuangan dan tingkat asersi.

Dalam mengidentifikasi ROMM, tim ICOFR mempertimbangkan baik kemungkinan terjadinya maupun besarnya potensi salah saji. Tim ICOFR mengidentifikasi ROMM dengan melakukan prosedur (termasuk tinjauan analitis) untuk memperoleh pemahaman mengenai perusahaan dan lingkungannya, pengendalian internal perusahaan, serta siklus-siklus dalam perusahaan tersebut.

Contoh-contoh di bawah ini adalah berbagai kondisi di mana kemungkinan besar terdapat ROMM pada tingkat laporan keuangan:

  1. Operasi pada kondisi ketidakstabilan ekonomi, misalnya sedang terjadi depresiasi mata uang yang signifikan atau ekonomi dengan inflasi tinggi.
  2. Operasi yang terpapar pada pasar yang bergejolak, misalnya perdagangan berjangka.
  3. Tingkat regulasi yang kompleks dan tinggi.
  4. Masalah kelangsungan usaha dan likuiditas termasuk kehilangan pelanggan utama.
  5. Keterbatasan dalam ketersediaan modal dan kredit.
  6. Perubahan dalam industri tempat perusahaan beroperasi.
  7. Perubahan dalam rantai pasokan.
  8. Mengembangkan atau menawarkan produk atau layanan baru, atau memasuki lini bisnis baru.
  9. Perluasan ke lokasi baru.
  10. Perubahan dalam perusahaan seperti akuisisi besar, reorganisasi, atau kejadian tidak biasa lainnya.
  11. Entitas atau segmen bisnis yang kemungkinan akan dijual. Aliansi kompleks dan usaha patungan (joint venture).
  12. Penggunaan pembiayaan di luar neraca, entitas tujuan khusus (special purpose entities), dan pengaturan pembiayaan yang kompleks lainnya.
  13. Transaksi signifikan dengan pihak berelasi.
  14. Kurangnya personel dengan keahlian yang sesuai dalam akuntansi dan pelaporan keuangan.
  15. Pergantian personel kunci termasuk kepergian eksekutif utama.
  16. Kelemahan dalam pengendalian internal, terutama yang tidak ditindaklanjuti oleh manajemen.
  17. Ketidaksesuaian antara strategi TI (teknologi informasi) perusahaan dan strategi bisnisnya.
  18. Perubahan dalam lingkungan TI.
  19. Pemasangan sistem TI baru yang signifikan terkait pelaporan keuangan.
  20. Penyelidikan terhadap operasi atau hasil keuangan perusahaan oleh badan regulator atau pemerintah.
  21. Salah saji di masa lalu, riwayat kesalahan, atau jumlah penyesuaian yang signifikan pada akhir periode.
  22. Jumlah transaksi non-rutin atau tidak sistematis yang signifikan, termasuk transaksi antar perusahaan dan transaksi pendapatan besar di akhir periode.
  23. Transaksi yang dicatat berdasarkan niat manajemen, misalnya pembiayaan kembali utang, aset yang akan dijual, dan klasifikasi surat berharga.
  24. Penerapan standar akuntansi baru.
  25. Pengukuran akuntansi yang melibatkan proses yang kompleks.
  26. Kejadian atau transaksi yang melibatkan ketidakpastian pengukuran yang signifikan, termasuk estimasi akuntansi.
  27. Litigasi yang tertunda dan liabilitas kontinjensi, misalnya garansi penjualan, jaminan keuangan, dan remediasi lingkungan.

Identifikasi dan penilaian ROMM yang tepat merupakan langkah penting dalam memastikan efektivitas pengendalian internal serta keandalan laporan keuangan perusahaan.

Leave a comment