Membentuk strategi kooperatif seperti yang dilakukan oleh Google, Intel, dan TAG Heuer memiliki potensi untuk membantu perusahaan mencapai tujuan yang penting bagi semua pihak, seperti pertumbuhan perusahaan. Secara khusus, strategi kooperatif adalah cara di mana perusahaan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Bekerja sama dengan pihak lain adalah strategi yang digunakan perusahaan untuk menciptakan nilai bagi pelanggan—nilai yang kemungkinan tidak dapat diciptakan oleh perusahaan itu sendiri. Seperti yang telah disebutkan, hal ini berlaku bagi Google, Intel, dan TAG Heuer, di mana tidak satu pun dari ketiga perusahaan ini dapat menciptakan smartwatch spesifik yang ingin mereka kembangkan tanpa kombinasi sumber daya dari ketiga perusahaan tersebut.
Perusahaan juga berusaha menciptakan keunggulan kompetitif saat menggunakan strategi kooperatif. Keunggulan kompetitif yang dikembangkan melalui strategi kooperatif sering disebut sebagai collaborative atau relational advantage, yang menunjukkan bahwa hubungan yang terjalin di antara mitra kerja sama sering kali menjadi dasar untuk membangun keunggulan kompetitif. Yang terpenting, penggunaan strategi kooperatif yang berhasil dapat membuat suatu perusahaan mengungguli pesaingnya dalam hal daya saing strategis dan keuntungan di atas rata-rata, sering kali karena mereka berhasil membentuk keunggulan kompetitif.
Aliansi strategis adalah strategi kooperatif di mana perusahaan menggabungkan sebagian sumber daya mereka untuk menciptakan keunggulan kompetitif. Aliansi strategis melibatkan perusahaan-perusahaan yang saling bertukar dan berbagi sumber daya dalam upaya bersama untuk mengembangkan, menjual, dan melayani produk atau jasa. Selain itu, perusahaan menggunakan aliansi strategis untuk memaksimalkan sumber daya yang telah dimiliki sekaligus bekerja sama dengan mitra untuk mengembangkan sumber daya tambahan sebagai fondasi bagi keunggulan kompetitif baru. Faktanya, saat ini aliansi strategis adalah strategi penting yang digunakan perusahaan untuk mengungguli pesaingnya.
Tiga jenis utama aliansi strategis yang digunakan perusahaan adalah joint venture, equity strategic alliance, dan nonequity strategic alliance. Perbedaan utama dari ketiganya terletak pada struktur kepemilikannya. Joint venture adalah aliansi strategis di mana dua atau lebih perusahaan membentuk perusahaan independen secara hukum untuk berbagi sebagian sumber daya mereka dalam rangka menciptakan keunggulan kompetitif. Biasanya, mitra dalam joint venture memiliki kepemilikan dan kontribusi operasional yang seimbang. Joint venture sering dibentuk untuk meningkatkan kemampuan perusahaan dalam bersaing di lingkungan kompetitif yang tidak pasti, serta efektif dalam membangun hubungan jangka panjang dan mentransfer pengetahuan implisit antar mitra.
Equity strategic alliance adalah aliansi di mana dua atau lebih perusahaan memiliki persentase kepemilikan yang berbeda dalam sebuah perusahaan yang dibentuk dari penggabungan sebagian sumber daya mereka untuk menciptakan keunggulan kompetitif. Banyak investasi langsung asing (FDI) ke Tiongkok oleh perusahaan multinasional dilakukan melalui equity strategic alliance. Sementara itu, nonequity strategic allianceadalah aliansi di mana dua atau lebih perusahaan mengembangkan hubungan kontraktual untuk berbagi sebagian sumber daya mereka guna menciptakan keunggulan kompetitif. Dalam jenis aliansi ini, perusahaan tidak membentuk perusahaan independen dan tidak memiliki kepemilikan saham. Karena itu, nonequity strategic alliance bersifat kurang formal, membutuhkan komitmen mitra yang lebih rendah dibandingkan dengan joint venture dan equity alliance, serta umumnya tidak membangun hubungan yang erat antara mitra. Namun demikian, bukti penelitian menunjukkan bahwa aliansi ini tetap dapat menciptakan nilai bagi perusahaan yang terlibat.
Strategi kooperatif pada tingkat bisnis adalah strategi di mana perusahaan menggabungkan sebagian sumber daya mereka untuk menciptakan keunggulan kompetitif dengan bersaing di satu atau lebih pasar produk. Complementary strategic alliances adalah aliansi di tingkat bisnis di mana perusahaan berbagi sumber daya secara saling melengkapi untuk menciptakan keunggulan kompetitif. Dua tipe utama dari complementary strategic alliances adalah vertikal dan horizontal. Dalam vertical complementary strategic alliance, perusahaan berbagi sebagian sumber daya dari tahap yang berbeda dalam rantai nilai untuk menciptakan keunggulan kompetitif. Sering kali, aliansi vertikal ini dibentuk untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan; terkadang perubahan ini menjadi peluang bagi perusahaan mitra untuk berinovasi sambil beradaptasi.
Horizontal complementary strategic alliance adalah aliansi di mana perusahaan berbagi sebagian sumber daya dari tahap yang sama (atau beberapa tahap yang sama) dalam rantai nilai untuk menciptakan keunggulan kompetitif. Aliansi strategis juga dapat digunakan pada tingkat bisnis untuk merespons serangan dari pesaing. Perusahaan kadang-kadang menggunakan aliansi strategis tingkat bisnis untuk mengurangi risiko dan ketidakpastian, terutama di pasar yang bergerak cepat (fast-cycle markets). Strategi ini juga digunakan di tengah ketidakpastian, seperti saat memasuki pasar produk baru, terutama di negara-negara berkembang. Untuk mengurangi persaingan, perusahaan juga kadang menggunakan strategi kolusif (collusive strategies), yang berbeda dari aliansi strategis karena sering kali merupakan bentuk kerja sama ilegal. Explicit collusion dan tacit collusion adalah dua jenis strategi kolusif tersebut.
Strategi kooperatif pada tingkat korporat adalah strategi di mana suatu perusahaan bekerja sama dengan satu atau lebih perusahaan lain untuk memperluas operasinya. Aliansi diversifikasi (diversifying alliances), aliansi sinergistik (synergistic alliances), dan waralaba (franchising) adalah strategi kooperatif tingkat korporat yang paling umum digunakan. Perusahaan menggunakan aliansi diversifikasi dan sinergistik untuk meningkatkan kinerja mereka dengan mendiversifikasi operasinya melalui cara selain dari pertumbuhan organik internal atau merger dan akuisisi. Ketika perusahaan ingin melakukan diversifikasi ke pasar yang tidak memungkinkan adanya merger atau akuisisi karena kebijakan pemerintah setempat, aliansi menjadi pilihan yang tepat. Aliansi strategis tingkat korporat juga lebih menarik dibandingkan merger, khususnya akuisisi, karena memerlukan komitmen sumber daya yang lebih sedikit dan memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam upaya mendiversifikasi operasi mitra.
Diversifying strategic alliance adalah strategi di mana perusahaan berbagi sebagian sumber daya mereka untuk melakukan diversifikasi produk dan/atau wilayah geografis. Perusahaan yang menggunakan strategi ini biasanya berupaya masuk ke pasar baru (baik domestik maupun internasional) dengan produk yang ada atau dengan produk baru yang dikembangkan. Synergistic strategic allianceadalah strategi di mana perusahaan berbagi sebagian sumber daya mereka untuk menciptakan economies of scope. Mirip dengan horizontal complementary strategic alliance pada tingkat bisnis, aliansi sinergistik menciptakan sinergi lintas berbagai fungsi atau berbagai unit bisnis antara perusahaan mitra. Franchising adalah strategi di mana suatu perusahaan (pemberi waralaba/franchisor) menggunakan waralaba sebagai hubungan kontraktual untuk mengatur dan mengontrol pembagian sumber dayanya dengan mitra (penerima waralaba/franchisee).
Namun, strategi kooperatif tidak bebas dari risiko. Jika kontrak tidak dirancang dengan tepat, atau jika mitra menyalahartikan sumber dayanya atau gagal menyediakan sumber daya tersebut, kegagalan sangat mungkin terjadi. Selain itu, perusahaan dapat berada dalam posisi rentan karena investasi spesifik terhadap aset yang dilakukan bersama mitra dan dapat dimanfaatkan secara sepihak. Kepercayaan menjadi aspek yang semakin penting dalam keberhasilan strategi kooperatif. Perusahaan sangat menghargai kesempatan untuk bermitra dengan perusahaan yang dikenal memiliki reputasi terpercaya. Ketika kepercayaan ada, strategi kooperatif dikelola untuk memaksimalkan pencapaian peluang antar mitra. Tanpa kepercayaan, maka diperlukan kontrak formal dan sistem pemantauan yang luas untuk mengelola strategi kooperatif. Dalam situasi ini, fokusnya adalah pada “minimasi biaya” alih-alih “maksimalisasi peluang”.


Leave a comment