Abdiansyah Prahasto

Kepatuhan dan Risiko Menggunakan Analogi Dua Ekor Sapi

    Kamu punya dua ekor sapi.

    Pemerintah mengharuskanmu untuk mendaftarkan mereka, melacak area penggembalaan mereka, memastikan kualitas susu mereka, dan memastikan mereka hanya makan rumput yang telah mendapat persetujuan.

    Suatu hari, seorang inspektur datang dan memberi tahu bahwa pagar kandangmu 5 cm terlalu rendah menurut peraturan baru.

    Kamu sibuk memperbaikinya, tapi gara-gara itu, sapimu malah berkeliaran ke ladang tetangga, melanggar peraturan tentang perbatasan wilayah penggembalaan.

    Sekarang, kamu harus mengajukan Rencana Perbaikan sebelum bisa kembali menjual susu.

    Kamu punya dua ekor sapi.

    Kamu membangun pagar kayu yang kokoh, untuk mencegah mereka kabur.

    Kemudian, kamu mendengar ada peternak yang sapinya dicuri, jadi kamu memasang kamera keamanan.

    Setelah itu, kamu mengetahui ada peternak lain yang kehilangan sapinya akibat banjir, sehingga kamu memutuskan untuk membeli asuransi sapi.

    Lalu, kamu mendengar tentang wabah penyakit langka yang menyerang sapi, jadi kamu mulai menimbun cadangan rumput dan persediaan medis darurat.

    Pada akhirnya, kamu menyadari bahwa begitu banyak waktu telah dihabiskan untuk mitigasi risiko hingga lupa memastikan apakah sapi-sapimu benar-benar menghasilkan susu.

    Kamu punya dua ekor sapi.

    Kamu membentuk Komite Pengawas Sapi untuk memastikan mereka dikelola dengan baik.

    Komite tersebut memilih Dewan Pengurus Sapi untuk mengawasi operasional sehari-hari.

    Dewan tersebut kemudian menunjuk seorang Kepala Pengawas Penggembalaan dan Direktur Produksi Susu guna memastikan praktik terbaik diterapkan.

    Seorang konsultan memberi tahu bahwa sapimu memerlukan Kode Etik dan Kebijakan Etika Industri Susu demi transparansi.

    Namun, saat semua kebijakan akhirnya diselesaikan, satu sapi sudah meninggalkan peternakan untuk bergabung dengan pesaing, sementara sapi yang lain menolak menghasilkan susu tanpa bonus kinerja.

    Kamu punya dua ekor sapi.

    Setiap pagi, kamu memeriksa mereka untuk memastikan tidak ada yang mencuri sapi di malam hari.

    Suatu hari, kamu menyadari bahwa pekerja peternakanmu diam-diam menjual susu dan menyimpan uangnya untuk diri sendiri.

    Kamu pun menerapkan kontrol ketat terhadap persediaan susu, memasang kamera, dan mewajibkan dua tanda tangan sebelum susu boleh keluar dari peternakan.

    Kemudian, kamu menemukan bahwa salah satu sapi mengklaim produksi susu milik sapi lain demi mendapatkan jatah rumput tambahan.

    Sekarang, kamu memperkenalkan sistem identifikasi sapi, tetapi sapi-sapi tersebut menolak memakai kartu identitas.

    Kamu punya dua ekor sapi.

    Kamu merawatnya dengan sempurna—makanan organik, perawatan harian, bahkan memutarkan daftar lagu relaksasi khusus sapi.

    Kompetisi Tahunan Peternakan Susu Terbaik pun tiba, dan kamu yakin akan menang.

    Namun, tetanggamu—yang sapinya setengah tertidur dan hanya makan rumput seadanyamalah berhasil memenangkan piala.

    Ternyata, para juri menerima keranjang keju “gratis” dari tetanggamu sebelum melakukan penilaian.

    Itu jelas tidak adil! Kamu mengajukan keluhan, dan pihak regulator sepakat—memang tidak adil! Sekarang, aturan anti-suap yang ketat mulai diberlakukan.

    Tahun berikutnya, para juri menolak semua sampel susu gratis, dan tetanggamu bahkan dilarang membagikan keju.

    Kamu punya dua ekor sapi.

    Karena khawatir dengan pencuri, kamu membangun pagar baja besar, memasang sensor gerak, dan mempekerjakan penjaga keamanan bernama Budi.

    Suatu malam, peretas mengirim email ke Budi sambil berpura-pura menjadi kamu, dengan pesan:

    “Darurat! Segera buka gerbang! Dokter hewan harus memeriksa sapi karena penyakit kuku langka!”

    Budi yang baik hati tapi mudah tertipu, membuka gerbang tersebut.

    Keesokan paginya, sapimu hilang.

    Lalu, kamu memasang firewall, otentikasi dua faktor (2FA), dan program pelatihan khusus supaya Budi tak mudah tertipu lagi.

    Namun, Budi masih saja menuliskan kata sandi di kertas tempel dan menempelkannya di pintu lumbung.

    Kamu punya dua ekor sapi.

    Sebuah perusahaan susu meminta data nama, pola makan, dan produksi harian mereka demi memastikan “susu berkualitas lebih baik.”

    Kamu dengan senang hati memberikannya—karena toh, “ini hanya data sapi.”

    Beberapa minggu kemudian, kamu melihat iklan di mana-mana untuk rumput premium, garam blok, dan paket yoga khusus sapi.

    Kemudian, seorang peternak yang tak dikenal datang menghampiri dan berkata, “Hei, saya dengar Rani sedang hamil. Selamat!”

    Kamu terkejut saat menyadari bahwa perusahaan susu tersebut telah menjual data sapimu kepada pihak ketiga.

    Sekarang, kamu memperkenalkan Kebijakan Privasi, membatasi pembagian data, dan mewajibkan persetujuan eksplisit dari sapi sebelum mengungkapkan informasi pribadi.

    Sapi-sapimu mungkin tidak mengerti, tetapi setidaknya kamu tidak akan didenda karena memindahkan data sapi tanpa izin.

    Kamu punya dua ekor sapi.

    Kamu memutuskan untuk menyerahkan urusan pemberian pakan mereka kepada pemasok peternakan lokal demi menghemat waktu.

    Pemasok tersebut berjanji menyediakan rumput organik berkualitas tinggi dan mengirimkannya setiap minggu.

    Suatu hari, sapimu terlihat lesu—ternyata pemasok mencampurkan rumput murah dan kedaluwarsa ke dalam pakan.

    Karena khawatir, kamu menyelidiki lebih lanjut dan mengetahui bahwa pemasok tersebut bahkan tidak memiliki izin peternakan yang memadai.

    Kini, kamu memberlakukan proses seleksi yang ketat, melakukan audit terhadap pemasok, dan menerapkan kebijakan “Tidak Boleh Ada Rumput yang Mencurigakan.”

    Namun, sapi-sapimu masih belum percaya, jadi kamu terpaksa mencicipi setiap rumput baru sebelum mereka memakannya.

    Kamu punya dua ekor sapi.

    Suatu hari, badai menghancurkan lumbung, dan sapimu kabur.

    Karena tidak punya rencana, kamu pun:

    •Terburu-buru memperbaiki lumbung—tetapi sapimu tetap hilang.

    •Menyalahkan pekerja peternakan—yang lalu mengingatkan bahwa dia tidak pernah dilatih menghadapi situasi darurat terkait sapi.

    •Mengumumkan kepada media bahwa semuanya terkendali—padahal sapi-sapimu terlihat berkeliaran di sekitar kota.

    Ketika kamu akhirnya bertindak dengan benar, pesaingmu mengklaim merekalah yang “menyelamatkan” sapimu, membuat reputasimu tampak buruk.

    Sekarang, kamu memperkenalkan Buku Panduan Tanggap Darurat, Latihan Evakuasi Sapi, dan strategi PR—tetapi di dalam hati, kamu tahu kekacauan semacam ini akan terjadi lagi di masa mendatang.

    Kamu punya dua ekor sapi.

    Untuk meningkatkan efisiensi, kamu memasang sistem AI untuk memantau kesehatan mereka dan mengoptimalkan produksi susu.

    AI menganalisis data terdahulu dan memutuskan bahwa hanya sapi yang lebih besar yang mendapat rumput premium, karena secara historis, sapi besar menghasilkan lebih banyak susu.

    Akibatnya, sapi yang lebih kecil berhenti memproduksi susu sama sekali, semakin menguatkan keyakinan AI bahwa memberi makan sapi kecil tidak ada gunanya sejak awal.

    Kamu pun menyadari bahwa AI ini menciptakan bias yang menjadi kenyataan—sekarang kamu punya satu sapi yang gemuk karena makan berlebih dan satu sapi yang sangat marah karena kekurangan makan.

    Kini, kamu melakukan audit pada sistem AI-mu, memperkenalkan prinsip keadilan, dan mengajari AI bahwa semua sapi berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk memperoleh rumput.

    Kamu punya dua ekor sapi.

    Suatu hari, Sapi #1 melihat bahwa pengurus ternak diam-diam menjual susu dan mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri.

    Sapi #1 melaporkan hal ini kepadamu, berharap kamu akan bertindak. Tapi ternyata, pengurus ternak tahu siapa yang mengadu dan mulai memberi Sapi #1 lebih sedikit rumput.

    Melihat hal ini, Sapi #2 memutuskan lebih baik diam saja, meskipun pengurus ternak baru saja menjual seluruh susu di belakangmu.

    Menyadari masalah ini, kamu menerapkan Layanan Pengaduan Anonim dan memperkenalkan Kebijakan Perlindungan Pelapor—tetapi para sapi tetap tidak percaya pada sistem tersebut.

    Kamu punya dua ekor sapi.

    Suatu pagi, kamu menyadari bahwa produksi susu lebih rendah dari biasanya. Merasa curiga, kamu memulai investigasi internal.

    •Kamu bertanya kepada Sapi #1, yang menjawab, “Aku tidak tahu apa-apa, tetapi sebaiknya kamu periksa Sapi #2.”

    •Kamu bertanya kepada Sapi #2, yang merespons, “Mungkin hanya kesalahan pencatatan.”

    •Kamu kemudian menginterogasi pengurus ternak, yang tiba-tiba teringat bahwa ia kehilangan kunci kandang pada hari itu dan “Tidak berada di tempat saat kejadian.”

    Setelah tiga minggu penyelidikan, sapi-sapi tersebut meminta pendampingan hukum, pengurus ternak menghindari pertanyaan lebih lanjut, dan kamu masih belum mengetahui ke mana perginya susu tersebut.

    Sebagai tindak lanjut, kamu menerapkan sistem pelaporan yang lebih ketat, perlindungan saksi anonim, serta mekanisme pengawasan distribusi susu yang lebih ketat—tetapi dalam hati, kamu menyadari bahwa fakta sebenarnya mungkin tidak akan pernah terungkap.

    Kamu punya dua ekor sapi.

    Sebuah perusahaan susu besar memberi tahu kamu bahwa mereka hanya akan membeli susu jika kamu memenuhi standar ESG yang ketat. Oleh karena itu, kamu melakukan hal berikut:

    •Mengurangi emisi metana dengan memberi sapi rumput yang diklaim “ramah lingkungan” (namun mereka menolak memakannya).

    •Memperbaiki kondisi kerja dengan memberikan pekerja ternak waktu istirahat makan siang yang lebih lama (sekarang ia tidur siang selama dua jam di tumpukan rumput).

    •Memperkuat tata kelola dengan membentuk Komite Pengawas Peternakan Sapi Ramah Lingkungan, yang bertemu dua kali setahun dan menghasilkan laporan setebal 50 halaman.

    Ketika inspektur datang, mereka meminta data yang membuktikan klaim ESG-mu. Dalam kepanikan, kamu terburu-buru menulisSapi ramah lingkungan” di papan tulis dan berharap yang terbaik.

    Kini, kamu menjalani audit atas dugaan greenwashing, sementara sapi-sapimu masih tidak memahami apa itu ESG.

    Diterjemahkan dan dimodifikasi dari BEYOND ONE (2014).

    Leave a comment